BAB 1. STRUKTUR ATOM DAN SISTEM PERIODIK UNSUR
A.Struktur Atom
1. Teori kuantum
Pada tahun 1900 Max Planck mengemukakan suatu hipotesis yang
dikenal dengan Teori Kuantum . Menurut Max Planck,pancaran radiasi
eletromagnetik suatu benda disebut diskrit,berupa paket-paket kecil atau kuanta
atau atau partikel yang disebut sebagai kuantum.Hipotesis Planck didukung oleh
Einstein yang menyebut partikel radiasi Planck dengan sebutan foton. Setiap
foton memiliki energi yang bergantung pada frekuensi atau panjang gelombang.
Besar energi foton dapat dihitung dengan :
Keterangan : E = energi radiasi
h = tetapan Planck = 6,63 x 10-34 joule detik-1
ν = frekuensi (detik-1)
c = cepat rambat cahaya = 3 x 108m detik -1
λ = panjang gelombang (m)
2. Model Atom Bohr
Pada tahun 1913 , Niels Bohr seorang fisikawan dari Denmark
berhasil mengungkapkan teori kuantum guna menggambarkan struktur atom. Meskipun
atom hidrogen hanya memiliki satu elektron saja,tetapi atom hidrogen juga
memiliki lintasan-lintasan elektronseperti atom-atom lain.Ini terjadi saat
elektron unsur hidrogen berpindah-pindah lintasan sambil memancarkan atau
menyerap energi. Bohr berhasil merumuskan jari-jari lintasan dan energi
elektron pada atom hidrogen. Jari-jari lintasan ke-n dalam atom hidrogen
dirumuskan sebagai berikut.
dimana n = kulit elektron : 1,2,3,,,,,
a0= 0,53 A (53 pm)
3. Hipotesis Louis de Broglie
Pada tahun 1924 ,fisikawan dari Prancis , Louis de Broglie
mengemukakan hipotesis tentang gelombang materi . Menurut de Broglie cahaya dan
partikel-partikel kecil , pada saat tertentu dapat bersifat sebagai benda yang
tersusun atas partikel ,tetapi dapat pula sebagai gelombang.Hipotesis Planck
melalui persamaan :
dimana λ = panjang gelombang
h = tetapan Planck
m = massa partikel
v = kecepatan
4. Mekanika Kuantum
Pada tahun1927 ,Erwin Schrodinger,ahli matematika dari
Austria mengemukakan teori mekanika kuantum . menurutnya ,kedudukan elektron
dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti ,yang dapat ditentukan adalah
probabilitas atau kemungkinan menemukan elektron . daerah dengan probabilitas
terbesar menemukan elektron disebut orbital.
5. Bilangan Kuantum
a. Bilangan kuantum utama: kulit K untuk n=1,kulit L untuk
n=2,kulit M untuk n=3,kulit N untuk n=4 dan begitu seterusnya . Secara nyata
orbital dengan bilangan kuantum berbeda ,mempunyai tingkat energi yang berbeda.
b. Bilangan kuantum azimuth (ℓ) : bilangan kuantum azimuth
menyatakan subkulit.
Tabel jumlah subkulit pada setiap kulit
Kulit n Subkulit (ℓ)
K
L
M
N 1
2
3
4 0
0,1
0,1,2
0,1,2,3
c. Bilangan kuantum magnetik (m) : menentukan orientasi
orbital dalam ruang disekitar inti atom.
Tabel jumlah Orbital setiap subkulit
ℓ Subkulit Harga m Jumlah orbital
0
1
2
3 s
p
d
f 0
-1,0,+1
-2,-1,0,+1,+2
-3,-2,-1,0,+1,+2,+3 1
3
5
7
d. Bilangan kuantum spin (s)
Bilangan kuantum spin menyatakan arah putar elektron
terhadap sumbunya (berotasi) sewaktu elektron berputar mengelilingi inti atom.
Bilangan kuantum spin dinotasikan dengan s. Arah rotasi elektron ada 2
kemungkinan ,yaitu searah jarum jam dan berlawanan dengan jarum jam. Oleh
karenanya ,bilangan kuantum spin (s) mempunyai 2 harga yaitu +½ dan -½.
6. Bentuk orbital dan orientasi orbital
a. Orbital s
Obital yang paling sederhana adalah orbital s. Orbital s
berbentuk bola simetris .Ini berarti pada setiap jarak yang sama dari inti atom
selalu ditemukan rapatan elektron yang sama. Semakin jauh dari inti atom
.rapatan elektronnya semakin rendah.
2s
3s
Semua orbital s,baik 1s,2s,3s, dan seterusnya semuanya
berbentuk bola ,tetapi berbeda ukurannya . Semakin besar harga bilangan
kuantum,semakin besar pula ukuran orbital atomnya.
b. Orbital p
Rapatan elektron orbital p terdistribusi pada bagian yang
berlawanan dengan inti atom. Inti atom terletak pada bagian simpul dengan
kerapatan elektron nol.
Setiap subkulit p (ℓ = 1) terdiri atas 3 orbital yan setara
,sesuai dengan 3 harga m untuk ℓ = 1, yaitu -1,0,dan +1. Ketiga orbital p pada
subkulit p ini dinamai dengan orbital px,py,pz, terletak di sepanjang garis
yang memotong sumbu x,y,z.
c. Orbital d
Subkulit d (ℓ=2) terdiri atas 5 orbital , tersebar diantara
sumbu-sumbu ruang x,y, dan z.
Semua orbital d tersusun pada inti atom . Masing-masing
orbital d dibedakan atas dxy,dxz,dyz,dx2- y2, dan dx2. Orbital dz2 mempnyai
bentuk yang berbeda dari keempat orbital lainnya. Namun,energi orbital dz2
setara dengan energi orbital lainnya.
d. Orbital f
Setiap subkulit f terdiri atas 7 orbital. Orbital f (ℓ = 3)
mempunyai 7 harga m ,yaitu -3,-2,-1,0,+1,+2,+3. Energi dari ketujuh orbital
adalah setara.
7. Konfigurasi Elektron
Konfigurasi elektron dalam dalam orbital suatu atom
sangatlah penting, karena konfigurasi elektron berpengaruh terhadap sifat-sifat
kimia suatu unsur. Penentuan konfigurasi elektron suatu atom menganut tiga
aturan ,yaitu:
a. Prinsip Aufbau
Menurut Aufbau,pengisian elektron ke dalam orbital selalu
dimulai dari orbital dengan tingkat energi rendah ke tingkat energi yang lebih
tinggi. Apabila terdapat 2 subkulit dengan harga n + ℓ sama, elektron akan
mengisi subkulit yang harga n-nya lebih kecil terlebih dahulu. Dengan demikian
suatu atom selalu berada pada tingkat energi minimum.
Urutan-urutan tingkat energi dari tingkat energi rendah ke
tingkat energi yang palint tinggi ,dapat dilihat pada diagram dibawah ini.
1s
2s 2p
3s 3p 3d
4s 4p 4d 4f
5s 5p 5d
6s 6p
7s
Pengisian elektron ke dalam orbital dimulai dari orbital
1s,kemudian 2s,2p,dan seterusnya.
Urut-urutan pengisian elektron ke dalam orbital di atas sama
dengan pengisian elektron berikut.
1s,2s,2p,3s,3p,4s,3d,4p,5s,4d,5p,6s,4f,5d.
b. Prinsip Larangan Pauli
Prinsip ini dikemukakan oleh Wolfgang Pauli pada tahun 1926.
Menurut Pauli, dalam satu atom tidak boleh ada dua elektron yang mempunyai 4
bilangan kuantum yang sama.Dua buah elektron yang menempati satu orbital ,
kemungkinan mempunyai tiga bilangan kuantum yang sama. Oleh karenanya, bilangan
keempat harus berbeda.
c. Kaidah Hund
Menurut hund , pengisian elektron ke dalam satu sub kulit ,
pada awalnya elektron menempati seluruh orbital dengan spin yang sama (½
penuh), baru kemudian berpasangan (penuh).Dalam penulisan konfigurasi elektron
, ada beberapa hal yang dapat diterapkan.
ФPenulisan Konfigurasi Elektron dengan Lambang Gas Mulia
Penulisan konfigurasi elektron dengan lambang gas mulia
dipakai untuk unsur-unsur bernomor atom besar.Misal: [Ar] 4s2 3d1
ФOrbital Penuh dan setengah Penuh
Berdasarkan hasil eksperimen ditemukan beberapa penyimpangan
konfigurasi elektron dari azas Aufbau. Misalnya pada 24Cr. Konfigurasi elektron
pada 24Cr : [Ar] 4s2 3d4 cenderung berubah menjadi [Ar] 4s1 3d5 . Ini berarti
bahwa subkulit yang penuh (d10) atau setengah penuh (d5) bersifat lebih stabil.
ФEletron Valensi
Elektron valensi adalah jumlah elektron pada subkulit dengan
n terbesar yang digunakan untuk pembentukan ikatan kimia .Dengan menuliskan
konfigurasi elektron suatu unsur ,maka akan dapat ditentukan elektron
valensinya. Misal:
19K : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1
n terbesar = 4
subkulit 4s mempunyai 1 elektron sehingga elektron valensi
19K = 1
Elektron yang terletak pada subkulit yang mempunyai energi
terbesar dinamakan elektron terakhir . Ini dikarenakan elektron tersebut
diletakkan paling terakhir berdasarkan aturan Hund . Konfigurasi elektron
terakhir dapat digunakan untuk menentukan nomor atom suatu unsur.
B. Sistem Periodik Unsur
1. Tabel Periodik Panjang
Sistem periodik bentuk panjang diperkenalkan oleh Henru G.J.
Moseley. Moseley menyusun sistem periodik berdasarkan nomor atom. Dalam tabel
periodik panjang unsur-unsur dibagi atas golongan,periode,dan golongan aktinida
dan lantanida. Kesemuanya disusun dalam tabel periodik unsur.
a. Golongan
Golongan pada tabel periodik unsur menyatakan jumlah
elektron yang terdapat dalam kulit terluar (elektron valensi). Unsur-unsur yang
mempunyai elektron valensi sama akan menempati golongan yang sama. Dalam tabel
periodik unsur terdapat delapan golongan. Setiap golongan dibedakan sebagai
berikut.
1) Golongan utama yaitu golongan IA sampai dengan VIIIA.
2) Golongan transisi yaitu golongan IB sampai dengan VIIIB.
b. Periode
Periode dalam tabel periodik menyatakan banyaknya kulit atom
yang dimiliki oleh unsur yang bersangkutan. Periode disusun dalam baris-baris
mendatar dan disusun berdasarkan kenaikan nomor atom. Periode dalam tabel
periodik panjang dibedakan menjadi empat sebagai berikut.
1) Periode pendek yaitu periode 1,2, dan 3.
2) Periode panjang yaitu periode 4 dan 5.
3) Periode sangat panjang yaitu periode 6.
4) Periode belum lengkap yaitu periode 7.
c. Golongan Aktinida dan Lantanida
Unsur Lantanida(La) terletak pada periode 6. Unsur-unsur
yang sifatnya mirip dengn unsur lantanida disebut unsur-unsur lantanida.
Unsur-unsur lantanida terletak pada golongan IIIB periode 6.
Unsur Aktinida (Ac) terletak pada periode 7. Unsur-unsur
yang sifatnya mirip dengan unsur aktinida disebut unsur-unsur aktinida. Kedua
golongan unsur ini dinamakan unsur-unsur transisi dalam atau unsur transuran.
2. Hubungan Sistem Periodik dengan Konfigurasi Elektron
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa tabel periodik modern
disusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. Nomor atom menyatakan
jumlah elektron. Sementara itu, sebaran elektron dalam atom dinyatakan dengan
konfigurasi elektron.
a. Periode
Tabel periodik panjang terdiri atas 7 periode. setiap
periode dimulai dengan pengisian orbital ns dan diakhiri orbital np dengan
konfigurasi penuh. Dengan demikian,periode dinyatakan dengan jumlah kulit.
Nomor periode di atas ke bawah menunjukkan bilangan kuantum utama terbesar yang
dimiliki oleh atom ujnsur yang bersangkutan. Oleh karena itu, Periode 1
memiliki n = 1,periode 2 memiliki n=2, dan seterusnya.
contoh:
Unsur 42Mo konfigurasi elektronnya 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2
3d10 4p6 5s1 4d5 atau [Kr] 5s1 4d5
Kulit terbesar n=5,sehingga 42Mo dalam tabel periodik unsur
berada pada periode 5.
Pembagian periode dalam tabel periodik panjang sebagai
berikut.
1. Periode Pendek
Periode pendek terdiri atas periode 1,2,dan 3. Periode 1
terdiri atas 2 unsur dan periode 2 terdiri atas 8 unsur. Pada periode 2,
elektron mulai mengisi orbital 2s dan orbital 2p hingga penuh. Sementara itu,
periode 3 terdiri atas 8 unsur,tempat elektron mengisi orbital 3s dan 3p hingga
penuh.
2. Periode Panjang
Periode panjang terdiri atas periode 4,5,dan 6. Elektron
pada periode 4 mulai mengisi orbital 4s sampai dengan 4p, dengan tetap
memperhatikan aturan Aufbau. Oleh karenanya setelah orbital 4s terisi penuh,
elektron kemudian mengisi 3d baru 4p.
Pada periode 5, elektron mulai mengisi orbital 5s kemudian
4d,baru ke orbital 5p,kecuali pada pengisian orbital penuh dan setengah penuh
seperti pada unsur Mo dan Ag.
Pengisian elektron untuk unsur-unsur pada periode 6, setelah
orbital 6s terisi penuh elektron, kemudian elektron mengisi 1 orbital 5d baru
ke orbital 4f. Pengisian orbital ini menghasilkan konfigurasi unsur-unsur
lantanida. Selanjutnya elektron kembali mengisi orbital 5d dan akhirnya 6p.
Setelah orbital 7s terisi penuh ,elektron mengisi 1 orbital 6d, kemudian 5f
baru orbital 5d.
b. Golongan
Tabel periodik panjang terdiri atas 8 golongan yang terbagi
menjadi 2 golongan yaitu golongan utama (A) dan golongan transisi (B). Nomor
golongan ditentukan oleh jumlah elektron valensinya.
Berdasarkan letak elektron terakhir pada orbital dalam
konfigurasi elekronnya, unsur-unsur dalam tabel periodik dibagi menjadi 4 blok
yaitu blok s,p,d, dan f.
1. Blok s
Blok s ditempati oleh unsur-unsur golongan IA,IIA,dan helium.
Konfigurasi elektron unsur-unsur blok s berakhir di orbital s.
Contoh: 19K : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1
n terbesar : 4 → periode 4
jumlah elektron pada subkulit s = 1 → golongan IA
2. Blok p
Blok p ditempati oleh unsur-unsur golongan IIIA hingga VIIIA.
Konfigurasi unsur-unsur ini berakhir di orbital p.
Contoh: 5B : 1s2 2s2 2p1
n terbesar : 2 → periode 2
Jumlah elektron pada subkulit s + p = 3 → golongan IIIA
3. Blok d
Blok d ditempati oleh unsur-unsur golongan transisi (B).
Konfigurasi elektron unsur-unsur blok d berakhir di orbital d. Nomor golongsn
unsur-unsurblok d ditentukan oleh banyaknya elektron pada subkulit d terakhir
ditambah dengan elektron pada subkulit s terdekat subkulit d terakhir , dengan
ketentuan sebagai berikut.
a) jika jumlah elektron pada subkulit d terakhir dan
elektron pada subkulit s terdekat kurang dari 8,nomor golongannya adalah jumlah
elektron tersebut.
b) Jika jumlah elektron pada subkulit d terakhir dan
subkulit s terdekat = 8,9, atau 10 unsur yang bersangkutan termasuk golongan
VIIIB
c) Jika jumlah elektron pada subkulit d terakhir dan
subkulit s terdekat lebih dari 10, nomor golongan unsur yang bersangkutan
diperoleh dari jumlah (d + s) - 10
4. Blok f
blok f ditempati oleh unsur-unsur golongan lantanida dan
aktinida. Konfigurasi elektron terakhir unsur-unsur blok f terletak pada
subkulit f. Jika harga n terbesar dalam konfigurasi elektron = 6 (periode 6)
maka unsur tersebut merupakan golongan lantanida. Jika n terbesar dalam
konfigurasi elektron = 7 (periode 7) maka unsur tersebut merupakan golongan
aktinida
Contoh: 56Pr = [Xe] 6s2 4f3
n terbesar : 6 →periode 6 →lantanida
BAB 2 BENTUK MOLEKUL DAN GAYA ANTARMOLEKUL
A. Bentuk Molekul
Adalah bentuk geometris yang terjadi inti atom unsur yang
saling berkaitan dalam
Suatu molekul dihubungkan dengan suatu garis lurus.Bentuk
molekul senyawa kovalen ditentukan oleh orbital-orbital atom yang digunakan
oleh elektron-elektron ikatan
1. Teori Domain Elektron
Teori ini menyatakan bahwa pasangan electron ikatan dan
pasangan electron bebas tolak menolak sehingga tiap-tiap pasangan electron
cenderung berjauhan satu sama lain untuk meminimalkan gaya tolakan tersebut .
Jadi bentuk molekul dipengaruhi oleh susunan ruang pasangan electron ikatan
(PEI) dan pasangan bebas (PEB)pada atom pusat suatu molekul .Pasangan electron
pada atom pusat disebut Domain .
Berdasarkan teori domain electron terdapat 5 bentuk dasar
molekul kovalen sebagai berikut.
a.) Linear: bentuk molekul yang disusun oleh tiga ayom yang
berikatan dalam satu garis lurus dan sebuah atom merupakan pusatnya .Sudut ikat
pada dua psang electron ikatan sebesar 180 .
contoh : HgBr2, CdCL2, dan BeH2
b.) Segitiga Datar : bentuk molekul segitiga sama sisi yang
disusun oleh empat buah atom . Sebuah atom sebagai pusatnya brikatan dengan
tiga lainnya dengan sudut ikat 120.
Contoh : BCI3 , BF3 , dan GaI3
c.) Tetrahedral : bentuk molekul yang tersusun dari lima
atom berikatan . Sebuah atom sebagai pusat yang berikatan dengan empat atom
lainnya dengan sudut ikat 109,5.
Contoh :CCI4 , CH4 , dan SnCI5
d.) Trigonal bipirada : bentuk molekul terdiri atas dua
bentuk piramida yang bergabung dalam salah satu bidang .Atom pusatnya
dikelilingi oleh lima atom dengan sudut ikat 120
contoh :PF5 , CH4 , danm PCI5
e.) Oktahedral : bentuk molekulterdiri atas delapan bidang
yang merupakan segitiga sama sisi dengan sudut ikat 90.
Contoh: SF6 , TeF6 , dan SeF6
Kelima bentuk dasar molekul kovalen di atas merupakan bentuk
geometri yang hanya mengandung PEI saja. Padahal dalam teori VSEPR , gaya
tolakan yang dihasilkan PEB juga memengaruhi bentuk molekul . Notasi VSEPR yang
menunjukan jumlah PEI dan PEB sebagai berikut
RUMUS :
AXn Em
Keterangan:
A = Atom pusat
X = PEI
n = jumlah PEI
E = PEB
m = jumlah PEB
Ada beberapa langkah meramalkan bentuk molekul ion
poliatomik , seperti dijelaskan berikut ini .
a. Menghitung jumlah pasangan electron pada semua atom ion
Pasangan electron = jumlah electron valensi + muatan ion
2
Contoh : Molekul NH4+
Pasangan electron = (1* electron valensi N) +(4* electron
valensi H )-1
2
= 5 + (4*1)-1
= 4
2
b. Menghitung jumlah pasangan electron ikatan (PEI) pada
atom pusaT
PEI = jumlah atom - 1
Contoh : molekul NH+4
PEI 5-1= 4
c. Menghitung jumlag paswangan electron yang berada di
sekitar atom pusat .
Pasangan pusat = pasanganelektron – (3 * jumlah atom ujung
(kecuali atom H)
Contoh : molekul NH+4
Pasangan pusat = 4 – (3*0 )
= 4
d. Menghitug jumlah pasangn pusat – PEI
contoh : molekul NH+4
PEB = 4 – 4
= 0
2. Teori Hibridisasi
Teori ini dijelaskan berdasarkan proses penggabungan
(hibridisasi ) orbital – orbital atom yang digunakan electron – electron yang
saling berkaitan . Teori ini disebut juga teori ikatan valensi.
a. Orbital hibrida sp
Konfigurasi 4Be : [ He ]
Konfigurasi 17 CI : [ Ne ]
Ikatan antara Be dan CI dapat terjadi jika electron Be pada
orbital 2s menglami promosi ke orbital 2p
Dengan demikian elekron atom Be dapat membentuk ikatan
kovalen dengan 2 atom CI orbital 2s dabn 2p
Kedua orbital 2s dan 2p atom Be akan membentuk dua orbital
yang disebut orbital hibrida . Hibridisasi orbital sp ini menghasilkan bentuk
molekul linear .
b. Orbital sp2
Penggabungan antara satu orbital s dengan dua orbital p
menghasilkan tiga orbital hibrida sp2 , missal ;
Konfigurasi ;5B [ He ]
Konfigurasi : 9 F [ He ]
Elektron B pada orbital 2s dipromosikan pada orbital 2p ; 5B
: [ He ]
Setelah menglami promosi , electron B dapat membentuk tiga
ikatan dengan atom F. Ketiga orbital hibrida sp2 ini membentuk molekul segitiga
datar dengan sudut 120 .
c. Orbital sp3
Penggabunga satou orbital s dengan tiga orbital p membentuk
empat orbital hibrida sp3. missal atom C berikatan dengan empat atom H melalui
promosi hibridisasi
Hibridisasi sp3 ini membentuk molekul tetrahedral dengan
sudut 109,5 .
d. OrbitaL SP3 DAN SP3D2
Penggandaan satu orbital s , tiga orbital p , dan satu
orbital d menghasilkan lima orbital hibrida sp3 . missal atom P berikatan
dengan atom S dan atom F .
O rbital hirida sp3d memiliki bentuk molekul trogonal
bipiramida.sementara itu , orbital sp3d2 dibentuk dari satu orbital s , tiga
orbital p , dan dua orbital d . Orbital hibrida sp3d2 memilki bentuk molekul
octahedral.
B. Gaya Antarmolekul
Kepolaran suatu senyawa dipengaruhi oleh adanya perbedaan
keelekktronegatifan antara atom – atom yang berikatan dann bentuk molekul .,
Senyawa dikatakan bersifat polar jika selisih keelektronegatifan antaratom
penyusunnya semakin besar.bentuk molekul juga menyebabkan senywa bersifat
polar.Adanya muatan electron yang tidak seimbang antaratom dalam senyawa polar
mengakibatkan terjadinya suatu kutub ( dipol)
Senyawa dikatakan bersifat nonpolar jika terbentuk dari atom
sejenis atau senyawa yang distribusu muatannya simetris , contoh H2 atau CH4
.hrga atom – atom dalam molekul nonpolar sama, sehingga muatan elktronnya
terdistibusi merata . Oleh kaerna itu , molekul nonpolar tidakmembentuk
kutub.pasangan electron senyawa nonpolar mengakibatkan bentuk molekul simetris
sehingga dipol – pol ikatannyasaling meniadakan .
Interaksi antara atom – atom dalam senyawa atau kumpulan
molekul dalam senyawa yang menalami tarik menarik di sebut Gaya Antarmolekul
.kuat lemahnya gaya tarikmenarik antarmolekul akan berpengaruh terhadap tnggi
rendahnya titik did9h suatu zat. Jenis gaya tarik menarik antarmolekul di
antaranya gaya Van der Wals dan ikatan hydrogen.
1 Gaya Van Der Waals
Gaya ini merupakan gaya antarmolekul yang sangat limah .
Gaya ini di bagi menjadi 2 :
a. Gaya London
Gaya ini ditemukan oleh fisikawan jerman yang bernama Fritz
London. Gaya London merupakan gaya tarik menarik antar molekul nonpolar akibat
adanya dipole terimbas yang ditimbulkan oleh perpindahan alektron dari satu
keorbital yang lain membentuk dipole sesaat.
Kemudahan suato molekul menghasilkan dipole sesaat yang
dapat mengimbas ke molekul di szekitarnya di sebut polarisabilitas .
polarisabilitas berkaitan dengan msassa molekul relative ( Mr ) dan bentuk
molekul .Jika massa molekul relative semakin besar , molekul semakin mudah
mengalamipolarisasi sehingga gaya London semakin kuat . dxan molekul mengalami
polarisasi , semakin tinggi titik ddihnya dan titik lelehnya .
b. Gaya tarik dipol
Molekul – molekul polar cenderung menyusun diri dengan cara
saling mendekati kutub positif dari suatu molekul dengan kutub negative molekul
yang lain.Gaya tarik menarik ini disebut gaya tarik dipol. Semakin besar momen
dipole yang dimilki suatu senyawa , semakin besar gaya tarik dipol yang
dihasikan .
2 Ikatan Hidrogen
Merupakan ikatan antarmolekul yang sangat polar dan
mengandung atom hydrogen . ikatan hydrogen disebabkan oleh gaya tarik menarik
antara atom mhidrogen dari molekul yang satu dengan atom molekul lain yang
sangat eletronegatif ( F , O , atau N ) . Dalam keadaan cair , atom hydrogen
dalam molekul air yang parsial positif ( + ) ditarik oleh pasangan electron
atom O molekul lain yang elektronegatif, sehingga terbentuk ikatan hydrogen.
Iktan hidrgen jauh lebih kuast daripada gaya – gaya Vasn der
Waals . Zat ini mempunyai ikatan hydrogen memerlukan energi yang besar untuk
memutuskan . OIleh karena itu . titik didih dan titik lelehnya sangat tinggi .
Adanya ikatan hydrogen dalam senyawa yang mengadung hydrogen
menimbulkan penyimpangan sifat atom umum beberapa senyawa dari unsure – unsure
segolongan . Contoh dertan H2, O , HS , H2Se, dan H2Te. Meningkatnya titik
didih H2S , H2Se , H2Te.disebabkan naiknya Mr molekul sehingga gaya Van der
Waals. Semakin kuat. Penyimpangan tejadi pada titik didih H2O karena adanya ikatan
hydrogen. Hal ini terjadi karena ikatan hydrogen antara molekul – molekul H2O
lebih kuat daripada ikatan pada molekul – molekul yang lain .
BAB V KESETIMBANGAN
A. Reaksi Kimia, Kesetimbangan Kimia, dan Tetapan
Kesetimbangan.
1. Reaksi Kimia.
Bersdasarkan sifat berlangsungnya reaksi, reaksi kimia di
bagi 2 macam yaitu : reaksi searah dan reaksi dua arah.
Reaksi searah/tidak dapat balik /Irreversible
Reaksi dua arah/ dapat balik /Reversible
1. Tanda satu arah
Tanda dua arah
2. Reaksi berhenti apabila salah satu/ semua reaktan habis
bereaksi. Reaksi Berlangsung produk yang terbentuk dapat berlangsung kembali
terurai menjadi reaktan
3. Reaksi berlangsung tuntas. Reaksi kea rah produk disebut
reaksi maju, reaksi kea rah reaktan disebut reaksi balik.
4. Produk tidak dapat terurai menjadi zat-zat reaktan.
contoh : NaOH(aq) NaCl(aq)+H2O(l)
contoh : N2(g)3H2(g) 2Nh3(g)
2. Keadaan Kesetimbangan.
Kesetimbangan kimia mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1. Reaksi berlangsung dua arah dalam ruang tertutup.
2. Laju reaksi ke kiri dank e kanan sama besar.
3. Tidak terjadi perubahan makroskopis.
Berdasarkan wujud zat-zat dalam keadaan setimbangan,
kesetimbangan kimia debedakan menjadi , yaitu kesetimbangan homogen dan
heterogen.
a. Kesetimbangan Homogen
Kesetimbangan Homogen adalah lesetimbangan kimia yang di
dalamnya terdapat satu macam wujud zat, misalnya gas atau larutan.
• Contoh: N2(g)+3H2(g) 2NH3(g)
b. Kesetimbangan Heterogen
Kesetimbangan Heterogen yaitu kesetimbangan kimia yang di
dalamnya terdapat berbagai macam wujud zat, misalnya gas, padat, cair, dan
larutan.
Contoh : C(s)+H2(g CO(g)+H2(g)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar